Dulu saya sering termenung melihat tabel cicilan KPR yang bunganya hampir seharga satu rumah lagi. Rasanya sesak membayangkan harus "diikat" oleh bank selama puluhan tahun. Akhirnya, saya memutuskan untuk mengambil jalan memutar yang mungkin lebih lama, tapi jauh lebih tenang: membangun rumah sendiri tanpa bantuan kredit bank sama sekali.
Strategi pertama yang saya jalankan adalah berburu material jauh sebelum pondasi digali. Setiap kali ada rezeki lebih, saya langsung menukarnya dengan material bangunan yang tahan cuaca. Saya mulai riset kecil-kecilan soal bahan yang efisien namun kuat. Dari sana, saya memahami bahwa keunggulan besi baja sangat krusial untuk struktur; selain lebih cepat dipasang dibandingkan beton konvensional, kekuatannya memberikan rasa aman meski dana kita sedang pas-pasan. Menimbun material sedikit demi sedikit terbukti menyelamatkan keuangan saya dari kenaikan harga bahan bangunan yang mendadak.
Keajaiban lainnya datang dari keputusan untuk menerapkan konsep rumah tumbuh. Saya membuang jauh-jauh ego untuk memiliki rumah mewah yang langsung jadi. Saya mulai dari bangunan kecil yang terdiri dari satu kamar dan satu kamar mandi yang layak huni. Prinsip saya sederhana: yang penting tidak lagi bayar sewa kontrakan. Setelah bangunan inti selesai dan saya tempati, barulah saya mulai menabung lagi untuk menambah ruang tamu atau kamar kedua beberapa tahun kemudian.
Selain itu, saya belajar untuk tidak gengsi menggunakan material "pre-loved" atau bekas layak pakai. Di tempat bongkaran bangunan, saya sering menemukan pintu kayu solid atau jendela kaca dengan harga separuh dari harga toko. Dengan sedikit kreativitas dan polesan cat baru, barang-barang ini justru memberikan kesan klasik dan mewah pada rumah saya. Ternyata, membangun rumah cantik tidak selalu harus menggunakan barang yang baru keluar dari pabrik.
Tentu saja, semua ini tidak akan berhasil tanpa manajemen tukang yang ketat. Saya tidak menggunakan kontraktor besar, melainkan bekerja sama dengan tukang lokal yang bisa dibayar harian atau borongan per bagian pengerjaan. Saya ikut turun langsung memantau setiap sak semen yang diaduk. Pengawasan mandiri ini sangat efektif untuk mencegah pemborosan dan memastikan kualitas bangunan tetap sesuai standar yang saya inginkan.
Inti dari semua ini adalah disiplin pada rencana anggaran yang sudah dibuat sejak awal. Saya harus rela menunda keinginan membeli gadget baru atau liburan mewah demi membeli batu bata dan pasir. Memang butuh waktu yang tidak sebentar dan keringat yang lebih banyak, tetapi rasa puas saat melihat rumah berdiri tanpa satu rupiah pun utang bank adalah kebahagiaan yang tidak bisa dibeli dengan apa pun.